Skip to main content

Kartu Mati


Membuka kartu matiku memang tak semudah membalikan telapak tanganmu untuk menghancurkan hidupku. Kau sebut aku pecundang dan kau buat kamus untuk menceritakan seluruh hidupku kepada orang lain yang memang itu adalah sifat busuk dari dirumu,buruk. Semua terasa bertebaran seakan kau genggam kartu mati. Jati diriku kau hancurkan didepan orang lain memang tak akan aku hiraukan sampai kapanpun. 

Yeah kawanku, jati diriku memang membuat engkau selalu mengharapkan bila aku hancur dan berantakan. Hina dan sudutkanku untuk membuka kartu matiku. Menjadikan sesuatu yang kelam sebagai cara agar dirimu membuat kartu as ini menyatakan satu jawaban yang menjadi polemik untuk semua hidupku. Memuaskan ambisimu, bodohnya dirimu untuk semua ini.



Enyahlah dan semua dimakan waktu ,menjadi debu untuk hidupmu..
Betapa pedulinya kau dengan hidupku..
Tidak takut jaminanku untuk jati diriku..



*inspirasi dari lagu Good Boy Badminton-Kartu Mati

Comments

Popular posts from this blog

Sangkut

Places

Setelah beberapa waktu ini engga banyak nulis, akhirnya kali ini bisa nulis juga. Tentu disuasana yang beda sama pemikiran yang berbeda. Waktu rasanya cepet banget kali ini. Mulai nulis taun 2009 (tapi blog lama lupa password, penyakit), ga berasa aja sekarang udah tahun 2016. Tulisan di tahun ke-7 ini banyak rasa-rasa yang udah campur aduk, perjalanan yang berasa bukan kelok-kelok lagi, tapi udah berasa "ribet". Ya, gini adanya. Buat nulis hari ini, banyak kerjaan dulu yang harus diberesin dan gatau tiba-tiba punya inisiatif tingkat tinggi buat beresin beberapa file yang acak-acakan di dekstop sama di beberapa folder laptop. Ya sedikit mendingan dibanding sebelumnya. Yang belum mendingan cuma laptopnya aja, masih jadul (belum mampu beli dan secara ga langsung masih nyaman buat dipake), ya gitulah! :D Ngomong-ngomong ini persis 1 taun lebih 20 harian tinggal di kota orang (Jakarta) dan ya 8 bulan yang lalu genap umur saya di usia 23 tahun. Itu taun kedua sih ngerayai...

Begin Again?

Perlu untuk kau sadari, diri ini tak mampu untuk terus bersandar pada sebuah harapan, nafas ini tak dapat mengenal santun untuk terus menghembuskan nafas, tak terucap segala rasa yang tak pernah bicara dan tak pernah untuk terucap. Kali ini, rasa dan sanjungan yang selalu ku buai dalam setiap gerak langkahmu tak dapat membuat kita saling mengingat dan menyatukan. Terkadang, warna-warna yang kuberikan itu aku persembahkan untukmu yang berada di jauh sana. Tampak jelas kali ini, bahwa fase tersebut membuat semua tampak menjadi jelas, ku hempaskan seluruh harapan ini, tampak bilur dan terjerembab dalam perputaran waktu yang tak juga membuahkan hasil yang selalu ku harapkan. Semuanya hanya tersisa dijiwa, lepaskan. Biaskan, bebaskan... Sesekali kupandang wajah pada foto yang kuselipkan di dompet cokelat usangku, wajahmu tersenyum tanpa ku tahu apa alasannya, rambutmu tampak terlihat indah dengan warna hitam panjang hingga menyentuh bahu yang indah itu. Matamu terlihat lebih te...