Skip to main content

Hidup dan Bertahan

Seperti biasa, kali ini bermula dari sebuah keisengan semata. Anak muda jaman sekarang memang cenderung membebaskan dirinya untuk berteman dan berkawan dengan siapapun. Senang melihat dari berbagai suku, agama, dan ras menyatu dan berbaur dengan tenang. Mencoba mengikuti seorang teman untuk dapat berkenalan dengan teman yang lain menjadi jurus paling jitu bila ingin memiliki teman yang banyak. Tidak usah punya malu untuk menambah teman dan menambah relasi dengan yang lain, sesungguhnya semuanya bakal menjadi manis pada waktunya.

Memiliki kecerian layaknya hari ini sunguh dinanti olehku. Menghabiskan waktu bersama teman-teman sangat menyita waktu dan membuat pikiran yang anehpun terancam hengkang dari hariku. Aneh memang. GO! itu selalu menjadi daya picu untuku untuk terus bersemangat disetiap harinya. Ah sudahlah, bingung ingin menulis apa lagi tentang ceritaku hari ini.

Lagunya mantep buat semangat hidup monggoh..


Comments

Popular posts from this blog

Sangkut

Places

Setelah beberapa waktu ini engga banyak nulis, akhirnya kali ini bisa nulis juga. Tentu disuasana yang beda sama pemikiran yang berbeda. Waktu rasanya cepet banget kali ini. Mulai nulis taun 2009 (tapi blog lama lupa password, penyakit), ga berasa aja sekarang udah tahun 2016. Tulisan di tahun ke-7 ini banyak rasa-rasa yang udah campur aduk, perjalanan yang berasa bukan kelok-kelok lagi, tapi udah berasa "ribet". Ya, gini adanya. Buat nulis hari ini, banyak kerjaan dulu yang harus diberesin dan gatau tiba-tiba punya inisiatif tingkat tinggi buat beresin beberapa file yang acak-acakan di dekstop sama di beberapa folder laptop. Ya sedikit mendingan dibanding sebelumnya. Yang belum mendingan cuma laptopnya aja, masih jadul (belum mampu beli dan secara ga langsung masih nyaman buat dipake), ya gitulah! :D Ngomong-ngomong ini persis 1 taun lebih 20 harian tinggal di kota orang (Jakarta) dan ya 8 bulan yang lalu genap umur saya di usia 23 tahun. Itu taun kedua sih ngerayai...

Begin Again?

Perlu untuk kau sadari, diri ini tak mampu untuk terus bersandar pada sebuah harapan, nafas ini tak dapat mengenal santun untuk terus menghembuskan nafas, tak terucap segala rasa yang tak pernah bicara dan tak pernah untuk terucap. Kali ini, rasa dan sanjungan yang selalu ku buai dalam setiap gerak langkahmu tak dapat membuat kita saling mengingat dan menyatukan. Terkadang, warna-warna yang kuberikan itu aku persembahkan untukmu yang berada di jauh sana. Tampak jelas kali ini, bahwa fase tersebut membuat semua tampak menjadi jelas, ku hempaskan seluruh harapan ini, tampak bilur dan terjerembab dalam perputaran waktu yang tak juga membuahkan hasil yang selalu ku harapkan. Semuanya hanya tersisa dijiwa, lepaskan. Biaskan, bebaskan... Sesekali kupandang wajah pada foto yang kuselipkan di dompet cokelat usangku, wajahmu tersenyum tanpa ku tahu apa alasannya, rambutmu tampak terlihat indah dengan warna hitam panjang hingga menyentuh bahu yang indah itu. Matamu terlihat lebih te...