Cinta, banyak orang menyeringai dan mendesah dikarenakan cinta. Bila mempertanyakan tentang cinta, mana mungkin semua orang secara lantang dan jelas menjelaskan tentang pemahaman cinta yang sesungguhnya. Semua itu karena setiap orang memiliki alur cerita sendiri untuk memaknai arti dari kata cinta yang dilayangkan untuk dijawab kemudian.
Terkadang kehidupan didunia tak selamanya mulus seperti kayu yang telah dipahat sedemikian rumitnya hingga memiliki aksen yang memikat tanpa ada guratan atau bekas yang kasar sedikitpun, padahal bila mata sedikit lebih jernih tanpa ada kejadian yang tampak kasat, maka akan ada beberapa guratan atau goresan yang kasar, maka liatlah secara halus dan rinci. Itu sama dengan hidup, tidak semua orang dapat memiliki lajur mulus tentang hidupnya, terkadang mereka mengatakan bahwa hidup ini indah bila dilengkapi dengan cinta. Lalu pertanyaannya, apakah kekuatan dari cinta tersebut dapat menutupi semua guratan yang tampak begitu kasar secara aslinya, padahal tampak secara nyata bahwa masalah demi masalah selalu datang dan pergi tanpa sinyal ataupun bunyi lonceng layaknya lonceng gereja memanggil untuk menghadap terhadap sang kuasa untuk memberikan segala sesuatu hal baik dan menghapuskan hal buruk, teng.. teng.. teng..
Telah memasuki sore yang dipenuhi dengan cahaya terakhir dihari ini. Kamu memandangi cahaya yang setiap detiknya akan menghilang secara perlahan, dengan memberi isyarat bahwa matamu menginginkan ini terulang untuk sekian kalinya untuk hari esok dan seterusnya. Musim panas akan segera datang dengan ditutupnya hari ini, tapi kau memikirkan bahwa musim saljulah yang kau ingin cicipi aroma manisnya salju dan banyak tangkai pohon yang diemban oleh banyaknya butiran salju dan kau mempermainkan diriku dengan gulungan bola-bola salju yang kau buat dengan penuh kegembiraan dan tentunya cinta, seperti yang selalu kau agungkan disetiap helaian nafas dan kehidupanmu. Tangkai..
Ahh... dari mana saja kau ini setelah matahari musim semi ini yag terakhir kali kau pandangi. Menelisik jejak langkahmu di taman belakang, tak membuatku mempunyai sebintik jejak langkah setapak yang kau tinggal, kau hilang bagaikan mimpimu yang telah lama kau bangun dan kau buang begitu saja. Semuanya kau anggap tak berguna bila tak ada magnet khusus yang dapat menggapai mimpi itu, aku bilang bahwa kau adalah "Pemahat Cinta". Seperti yang selalu kau lakukan disetiap keseharianmu, kau buat semuanya terasa penuh dengan kelembutan dan keceriaan seperti yang kau buat, penuh rasa cinta. Bagiku rasa cinta yang kau berikan, layaknya sebuah cokelat hangat yang selalu aku buat sebelum aku tertidur lelap untuk menutup lembaran hari-hariku yang selalu kulewati bersamamu. Menyenangkan sekaligus hangat, cokelat..
Senja tadi kau buat dunia untuk terus menampilkan cahya matahari yang ingin kau tangkap terus menerus hingga kehangatan musim semi ini dapat kau abadikan dan dapat kau bagi pada saat musim salju tiba. Kupetikan dawai gitar ini untuk menemanimu menghabiskan waktu senja ini untuk berbicara bersama mengenai impian kita, mimpi kita, rencana yang akan kita habiskan bersama ataupun sendiri untuk umur kita kali ini yaitu 20, sampai kita menutup mata untuk selamanya dan semua orang tersenyum melihat apa yang telah kita perbuat sebelumnya yang dimana semuanya penuh dengan keceriaan dan kesenangan bagi siapapun yang merasakan layaknya anak kecil yang tampak bahagia menari-nari diatas panggung kecil diiringi musik dia riang gembira.
Bila nanti ada yang menjawab tentang akhir dari akhir yang kita ciptakan sebelumnya. Lonceng yang bertingkah yang ada didepan rumahmu membangunkan orang tanpa membagi sedikit asmara yang telah kita lakukan untuk memulai hari mereka, karena itu hanya untuk kita. Maka tidurlah, karena malam terlalu malam, apabila pagi telah menjelang, jangan sampai pagi terlalu pagi untuk memejamkan mata. Derau dan pagi tak akan terisi dengan kesenangan bilamana kau tak memejamkan malamnya dengan sebuah senyuman, maka tidurlah dengan keceriaan.
Bingkai figura yang kau beli beberapa bulan yang lalu masih saja kau letakan didasar lantai kamarmu. Kata pertama yang kau berikan untuk menyatakan alasan mengapa kau letakan figura tersebut yaitu "Soon".. Aku selalu terhenyak bila kau mengatakan kata yang sangat kau sukai, yaitu aksen indonesia kental dengan dibalut indahnya kata-kata asing yang kau kuasai. Kau buat mataku jauh memandang tentang siapa dan apa dirimu diluar sana. Kau menari kegirangan pada saat mengatakan kata-kata yang kau sukai, senyummu mengembang bagaikan balon udara yang siap mengantarkan kita untuk menyentuh awan putih dan melihat burung lebih dekat dan berharap kita dapat melanjutkan untuk terbang ke Mars, sungguh aku tergoda oleh khayalanmu dan kata-kata yang sangat abrakadabra yang kau lantunkan tersebut.
Dulu, kau berteriak bahwa kau tak ingin rambut panjangmu yang kau sebut sebagai anugrah dari mamah yang sangat indah jelita di muka bumi itu dipotong ataupun sehelaipun terpangkas. Pipimu yang terus mengembang bila aku terus mengatakan bahwa kau tampak lebih cantik bila rambut indahmu dipotong hanya sampai bahumu yang selalu kau tunjukan padaku bahwa itu adalah bahu terindah yang wanita miliki didunia, dan itu hanya dimiliki oleh dirimu. Mata yang kau kerutkan dan bibir kemerahanmu yang kau kendurkan untuk menyatakan bahwa kau menolak untuk menerima segala masukan yang ku beri untukmu. Ku hampiri rambutmu dengan jari-jemariku dan akupun mengatkan bahwa aku menyukai apa yang kau sukai saat ini dan seterusnya, entahlah apa yang selalu menghampiri pikiranku tentang gelagatmu, tapi memang cinta yang kau berikan dan kau tunjukan membuat otak dan darah ini dapat saja berpindah arah tidak seperti seharusnya.
Lain halnya untuk siang hari ini, kau tampak carut marut dengan siang ini. Matahari kau abaikan dan segelas capuccino dingin yang selalu membuatmu sangat bahagia, bahkan minuman tersebut dapat dikatakan adalah pacar yang paling mengerti bagaimana untuk membahagiakanmu, lenyapkanlah saja aku. Kata-katamu bagaikan pisau yang sangat tajam, menyayat hati dan membuat siapapun yang tak mengenalmu dapat mengarahkan martir kehadapan mukamu. Aku tau, kau tengah gundah saat ini. Ikuti aku, maka kau akan menemukan gambaran bagaimana kesenangan yang selama ini kupendam padamu, itu akan menjadi senjata pamungkas yang akan membuatmu terpana, ikuti aku...
Terkadang hujan sore tak deras hujan di pagi hari, entah mengapa aku lebih senang mendengar tetesan hujan pada pagi hari. Pagi hari ini, ku sanderkan kepalaku didepan kaca jendala kamarku untuk merasakan hawa pagi hari ini yang dimana hujan menemani matahari pagi ini, dingin. Matahari tampaknya merasakan dingin yang kurasakan, hingga kulihat ia kembali kedalam kamar hangatnya dan berselimut, reduplah pagi kali ini. Ini waktu dimana kau mengatakan bahwa kau tak akan pernah bepergian kenaga-negara dimana mereka memiliki tempat terindah dan pemandangan terindah didunia. Lalu, aku berpikir bahwa kau akan mengalihkan ke luar angkasa dimana khayalanmu tentang dunia diluar bumi sana kau kembangkan sejak dulu. Tapi tidak, kau katakan bahwa waktu pagi hari ini dengan ditemani gemericik hujan pagi, kau katakan bahwa kau akan diam dimana aku diam, serta akan tertawa disaat aku tersenyum. Dari hal tersebut, aku mengatakan bahwa, hujan diwaktu pagi hari kau memerikanku kesejukan dan kesegaran yang sesungguhnya bagi diriku dan hatiku, aku cinta kamu hujan.
Aku tak pernah melihat gunung menangis, biarkan matahari membakar tubuhnya..
Tak ada lagi raut muka meradang, gelisah, serta ekspresi yang selalu aku takuti bila sedang bersamamu dan itu adalah bukan waktu yang tepat untuk menemanimu. Kau kini akan kupanggil sebagai Permaisuri Hujan, menyejukan dan menyenangka untuk selalu kunikmati tiap harinya. Pagi hari ini, tak ada hujan lagi, tetapi Permaisuri Hujanku yang aku lihat, selamat jalan gemericik hujan, terimakasih semangat Cinta yang selalu membuat sang Permaisuri Hujanku kini menjadi semakin berseri dan menyejukan, terima kasih kaca jendela...
Semuanya ranum seperti anggur, hembusan angin bercabang...
Negara Dimana Kau Berada
Bandung, 19 Juni 2013
Comments
Post a Comment