Skip to main content

Kata Maaf

Ku tahu semuanya memang terlalu cepat untuk dilalui. Semuanya bagaikan sebuah gaya grafitasi bumi yang selalu menimbulkan kepastian bahwa benda akan jatuh ke bawah begitu cepat dan tanpa kita duga. Sama halnya dengan sesuatu yang terjadi kemarin, begitu cepat dalam sebuah lingkup kecil dan sempit. Tidak ada sesuatu yang disengaja dan sesuatu yang tidak mendasar. Semuanya jelas terungkap dan memastikan bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang selalu menjadi beban bagiku.

Kondisi dan waktu yang tidak pas membuat semuanya runyam dan seakan menjadi batu besar yang menimpaku beberapa hari ini. Sakit, bingung dan kewalahan untuk menghadapinya. Berulang kali suara itu mencoba menghubungimu tapi dunia seakan tertutup untukku untuk dapat menyampaikan sesuatu kata dariku. menggunakan sebuah kalimat pengandaian bukan berarti semuanya berharap terjadi tapi sebuah pengendaian hanya ungkapan agar semuanya menjadi jelas dan terurut. Tidak adalah persepsi siapa yang salah dan siapa yang patut disalahkan.

Kamu memang berada dibawah sebuah layar yang membuat jalan dan pemikiran kita berbeda. Menghargai semua jenis tindakan yang engkau ambil terkadang menyulitkan bagiku. Tapi semuanya dijalani dengan proses yang berbelit dan terkadang membuat nafas ini terengah dan mengerang kesakitan. Taukah kamu bahwa semuanya seakan menjadi santapan pagi untukku dan bunga tidur bagi tidurku. Semuanya seperti itu. Berjalan dan merebahkan tangan dibeberapa tempat yang berbeda sekan menjadi sebuah kekuatan untuk kembali berpikir lebih baik dan lebih peka terhadap siatuasi yang kamu hadapi saat ini. 

Bagiku, kamu adalah sebuah malaikat kecil yang indah nan cantik. Dan bagiku, semuanya tidak dapat dipaksakan seperti yang kumau. Pengertian dan kepekaan akan kondisimu membuat semuanya menjadi jelas. Kata maaf dariku mungkin engkau terima tapi sampai saat ini belum kudapat jawabannya darimu.


MAAF

Comments

Popular posts from this blog

Bukan Retak, Tetapi Patah

Siang ini saya mendapat telepon dari Ayah. Biasanya beliau hanya menghubungi melalui whatsapp atau pesan singkat melalui handphonenya. Itu pun dapat dihitung dalam satu tahun, mungkin tiga kali dalam satu tahun, banyaknya empat atau lima kali satu tahun. Tidak pernah lebih.  Disaat yang sama, kebetulan saya sedang istirahat makan siang, sungguh kebetulan. Kebetulan, saya sejujurnya tidak percaya dengan hal kebetulan, tetapi kali ini alur ceritanya seperti itu. Siang ini matahari begitu terik, saya baru saja menyeruput minuman es teh manis, favorit untuk ukuran saya dan keadaan kantong saku saya, hehe. Selama saya berada di kota orang, saya tidak pernah berbicara panjang lebar dengan Ayah. Semuanya selalu berjalan dengan cepat, singkat dan padat. Tanpa basa-basi. Itu salah satu karakter Ayah saya, ternyata menurun pada diri saya. Topik pembicaraan yang disuguhkan Ayah sungguh membuat heran, tidak biasanya beliau menghubungi saya dan bercerita layaknya sebuah percakapan anta...

Sangkut

Places

Setelah beberapa waktu ini engga banyak nulis, akhirnya kali ini bisa nulis juga. Tentu disuasana yang beda sama pemikiran yang berbeda. Waktu rasanya cepet banget kali ini. Mulai nulis taun 2009 (tapi blog lama lupa password, penyakit), ga berasa aja sekarang udah tahun 2016. Tulisan di tahun ke-7 ini banyak rasa-rasa yang udah campur aduk, perjalanan yang berasa bukan kelok-kelok lagi, tapi udah berasa "ribet". Ya, gini adanya. Buat nulis hari ini, banyak kerjaan dulu yang harus diberesin dan gatau tiba-tiba punya inisiatif tingkat tinggi buat beresin beberapa file yang acak-acakan di dekstop sama di beberapa folder laptop. Ya sedikit mendingan dibanding sebelumnya. Yang belum mendingan cuma laptopnya aja, masih jadul (belum mampu beli dan secara ga langsung masih nyaman buat dipake), ya gitulah! :D Ngomong-ngomong ini persis 1 taun lebih 20 harian tinggal di kota orang (Jakarta) dan ya 8 bulan yang lalu genap umur saya di usia 23 tahun. Itu taun kedua sih ngerayai...